
| RUBRIK |
|
| ![]() |
| HIKMAH |
Kaum mukmin laki-laki dan wanita, sebagian mereka adalah penolong sebagian yang lain, mereka memerintahkan kebajikan dan mencegah kemunkaran QS At-Taubah 71 |
|
| ![]() |
| ANTARKITA |
|
| ![]() |
| KALENDER |
|
SEPTEMBER 2010
|
|
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
| 5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
11 |
| 12 |
13 |
14 |
15 |
16 |
17 |
18 |
| 19 |
20 |
21 |
22 |
23 |
24 |
25 |
| 26 |
27 |
28 |
29 |
30 |
|
|
|
|
|
| ![]() |
| LINK ISLAMY |
|
| ![]() |
| POLLING |
|
| ![]() |
| KARTU UCAPAN |
|
| ![]() |
|
|
|
Pemilu dan Perubahan
oleh : Muhammad Fajar H.
9 April yang lalu bangsa ini telah mengadakan sebuah gawe besar. Yup, apalagi klo bukan HUT gue (ya nggak lah..). Pada tanggal ”keramat” tersebut Qta2 melakukan aksi pencontrengan massal, yang diberi nama pemilu (walo gue sendiri nggak ikut2, tangan gue bersih bo’). Pemilu, yang sudah kedua kalinya diadakan setelah era reformasi dikumandangkan ini diikuti oleh 38 partai nasional dan 6 partai lokal dari Aceh.
Setelah kesekian kalinya diadakan, keberlangsungan pemilu telah menjadikan Indonesia sebagai negara yang demokratis di mata dunia. Namun, antara pemilu dan kemajuan bangsa seakan-akan tidak memiliki korelasi apapun. Hal yang terjadi pemilu hanya menjadi ajang penghamburan anggaran negara dan uang masyarakat yang ingin menjadi terkenal secara instan melalui panggung pemilu.
Pemilu telah menjadi seperti ajang pemilihan bakat layaknya Indonesia Idol, AFI dan acara sejenisnya. Bagaimana tidak, ada 11.000 lebih caleg yang telah terdaftar, dan mereka begitu ”ikhlas” mengucurkan dana hanya untuk sekedar dikenal dan (tentu saja) dipilih oleh rakyat. Sebagai perbandingan, dalam pilpres 2004 pasangan Wiranto-Sholahudin Wahid MELAPORKAN pengeluarannya 86 M rupiah, Megawarti-Hasyi Muzadi 84 M rupiah, SBY-JK Rp74 milyar, Amien Rais-Siswono 16 M, serta Hamzah Haz-Agum Gumelar 16 milyar rupiah. Penyelenggaraan pemilu 2009 sendiri membutuhkan biaya yang tidak tanggung-tanggung besarnya, anggaran formal yang disetujui oleh DPR adalah 14,1 trilyun rupiah.
Bro, qta harus sadar, pelaksanaan pemilu itu sendiri tidak akan bisa menghasilkan perubahan2 yang bisa menyelesaikan permasalahan bangsa ini. Bukannya pesimis ato udah terlanjur pasrah degan keadaan, tapi proses pemilu hanya mengganti individu-individu yang ada di pemerintahan dengan orang-orang yang baru. Padahal yang menjadi persoalan sejatinya bukan terletak pada individu yang menjalankan roda pemerintahan itu sendiri. Pokok permasalahannya justru terletak pada sistem itu sendiri.
Ya, yang menjadi persoalan tidak lain adalah demokrasi, sebagai sistem pemerintahan yang dianut bukan oleh Indonesia saja, tapi seluruh dunia bahkan seiya-sekata dalam menerapkan demokrasi.
Nah, sekarang yang harus dicermati, benarkah persoalannya terletak pada sistem demokrasi? Atau permasalahannya bukan pada individu- individu yang menjalankannya?
Kita lihat saja orang-orang yang telah mencicipi panasnya kursi pemerintahan, bukankah mereka-mereka itu memiliki kompetensi yang begitu tinggi dalam dunia perpolitikan? Bukankah Sukarno, Hidayat Nur Wahid, Amien Rais itu adalah orang-orang yang kapabilitasnya telah diakui oleh masyarakat bahkan dunia? Dan bukankah orang-orang yang dihasilkan oleh demokrasi hanyalah orang-orang seperti Hitler, Mussolini, Ariel Sharon, Bush dan para pembantai manusia lainnya? Berapa banyak orang-orang baik yang dihasilkan oleh demokrasi bila dibandingkan dengan individu- individu rusak yang dihasilkannya?
Setelah begitu panjang sejarah penerapan demokrasi, sejatinya apa yang telah demokrasi ini hasilkan bagi keberlangsungan hidup masyarakat dunia? Tidak ada, kecuali hanya konflik-konflik berkepanjangan, krisis yang terus berulang, individu-individu yang rusak dan begitu banyak permasalahan lainnya yang tak pernah terselesaikan.
Fakta telah membuktikan bahwa perubahan yang ditawarkan oleh demokrasi hanyalah bualan belaka. Bila yang dimaksud perubahan adalah sekedar perubahan seadanya, memang demokrasi menjanjikan. Bahkan, dalam demokrasi, yang ada justru tidak ada hal yang tetap. Karena demokrasi sendiri mendasarkan sistem dan aturannya pada akal manusia secara mutlak. Sementara akal manusia selalu berubah dari waktu ke waktu. Hal ini dikarenakan akal selalu dipengaruhi oleh kepentingan dan kondisi lingkungan sekitarnya. Bila demikian, tentu merupakan hal yang sangat tidak masuk akal kalau tidak bisa dikatakan mustahil dalam demokrasi suara ribuan rakyat disamakan dengan suara satu anggota dewan. Secara riil suara wakil rakyat tentu mencerminkan suaranya sendiri, bahkan mungkin lebih condong kepada kepentingan pihak-pihak yang telah mendukungnya. Sungguh suatu ironi bila yang demikian itu dikatakan sebagai manifestasi suara rakyat.
Ini adalah sebuah kewajaran, mengingat demokrasi hanyalah sebuah sistem yang dihasilkan oleh manusia yang tentu saja tidak bisa lepas dari brbagai kepentingan-kepentingan.
Bila seperti ini, masihkah kita terus berharap pada janji-janji kosong demokrasi dalam mensejahterakan dunia? Lalu, kemanakah kita akan berharap?
Sejarah telah menyaksikan sosialisme dengan pemerintahan totaliternya telah mati sebelum berkembang. Kapitalisme sebagai asas dari demokrasi tentu sudah tidak bisa diharapkan lagi.
Namun, sejarah juga telah mencatat akan keberhasilan sebuah sistem. 14 abad lamanya ia telah mensejahterakan dunia dengan kejayaan yang tak tertandingi oleh sistem manapun. Ia berhasil mensejahterakan tidak hanya kehidupan manusia saja, bahkan alam pun turut merasakan manisnya. Ia menjadi sebuah sistem dengan negara inti yang mencakup 2/3 bagian daratan dunia.
Islam yang kaffah yakni sebagai agama dan sistem kehidupan yang dibawa oleh seorang Rasul yang ummi ini bukan hanya memberi janji, namun telah terbukti mampu memberi solusi bagi seluruh permasalahan umat manusia. Seluruh persoalan mulai dari yang remeh hingga yang terumit, dari manusia bangun hingga tidur berhasil diselesaikan sesuai dengan fitrah, memuaskan akal dan menentramkan hati manusia.
Hanya dengan Islam yang menyeluruhlah perubahan yang hakiki itu bisa terwujud. Karena ia sendiri diciptakan oleh Allah SWT. sang Pencipta manusia, yang paling mengetahui hakikat manusia, apa yang baik dan yang buruk baginya, bermanfaat atau tidak.
Tidak bisa dipungkiri memperjuangkan peegakan Islam memang sangatlah berat. Apalagi harus berhadapan dengan sistem yang berlawanan. Dalam hal ini, ada sebagian pihak yang menyakini bila penegakan Syariat Islam bisa dilakukan melalui sistem demokrasi. Bila yang dimaksud adalah penerapan Islam secara parsial, memang hal ini memungkinkan untuk diwujudkan. Seperti diterapkannya hukum pernikahan Islami, pembagian hak waris, ibadah serta hukum-hukum yang beraitan dengan individu.
Hanya saja bila yang dituju adalah penerapan Islam yang menyeluruh, hal ini tampaknya sangat mustahil. Hal ini dikarenakan sebagai sebuah sistem apalagi demokrasi didasari oleh asas sekularisme, wajarlah bila demokrasi akan menunjukkan resistensi terhadap intervensi agama (Islam) dalam pengaturan kehidupan.
Di samping itu, berjuang di dalam sistem bukanlah metode yang dicontohkan nabi dalam merubah masyarakat. Muhammad SAW. sebagai teladan bagi umat Muslim menolak cara-cara seperti ini dengan tegas. Belum lagi waktu dan tenaga yang dibutuhkan bila berjuang merubah sistem melalui sistem itu sendiri. Di samping harus menyampaikan ide yang dibawa, mau tidak mau harus merebut kekuasaan dalam sistem. Hal ini tentu sangat riskan, mengingat adanya keharusan adanya kompromi-kompromi dan kerja sama untuk ”memuluskan” perjuangan.
Secara faktual, hal ini telah dibuktikan oleh berbagai gerakan perjuangan di berbagai dunia. Kasus FIS di Aljazair, Refah di Turki, Fatah dan Hamas di Palestina semaikin mempertegas bahwa perjuangan penerapan Islam secara menyeluruh tidak akan bisa dilakukan melalui demokrasi.
Jalan untuk mewujudkan perubahan yang sejati, yakni dengan menerapkan Islam secara menyeluruh, telah ditunjukkan oleh Rasulullah. Beliau dengan metode dakwahnya telah berhasil menunjukkan perubahan yang diimpikan diawali dengan tegaknya kekhilafahan di Madinah dan menyebarkan perubahan tersebut ke seluruh duniadan bahkan bertahan hingga lebih dari 14 abad lamanya. Hal ini tentu sudah cukup sebagai bukti akan keberhasilan metode dakwah Rasulullah.
Dengan demikian, perubahan hakiki yang dinanti oleh dunia tidak akan bisa diwujudkan kecuali dengan mengikuti metode dakwah Rasulullah untuk menerapkan sistem Islam secara menyeluruh dan melanjutkan kehidupan Islam dalam naungan Khulafa ar-Rasyidah.
|
dipublikasikan oleh: Admin [20/05/09 - 10:19:44] |
Komentar (5) Cetak Kirim |
| 1 s.d. 1 dari 1 |
|
| ![]() |
| 
| FANS CLUB |
|
| ![]() |
| PAPAN SALAM |
dari: khairan untuk: iqbal
![]() smga cepet sembuh
| dari: UZoNaASVBgtYkUeP fq untuk: FEHFBSezulYm
![]() PjZaNLwDTsLBjL
| dari: pECAulcFMUQTBuLL vB untuk: kQuFiomcoxsUhgm
![]() vKFdfyCYOS
| dari: SiGwBgt untuk: all
![]() jangan berputus asa dari rahmat Alloh SWT
| dari: Ham untuk: Ummi
![]() Salam utk mu
| dari: aq untuk: aq
![]() ^_^
| dari: Iril untuk: Dia
![]() Asalamu'alaikum , the best for you
| dari: YOywXbVVkR untuk: xEmSYwgPWTgHVBLE
![]() DlYjTPzQwmGjpvsp kJ
| dari: Azkiya untuk: Sodaraq dmn pun kalian berada
![]() Terus bjuang demi tegaknya izatul islam!
|
|
|
|
| ![]() |
| WEBMASTER |
abdulloh

harrishariadi

mukhsin USB

syarip hidayat

dhonyfirmansyah
|
| ![]() |
|